Bagaimana Aku Melihat ALLAH

Image

Dahulu kala ada seorang laki-laki baik budi bahasanya, bersih hatinya. Dia dikaruniai seorang anak laki-laki yg sangat cerdas dan pandai berbicara. Pada suatu hari mereka duduk berdua, berbincang-bincang seakan-akan mereka saling berteman tak ada umur yg membedakan. Mereka saling berpengertian didalam bertukar pikiran mengenai hakekat alam.

Hari itu dia melihat kepada anaknya dan berkata, “Terima kasihku kepada ALLAH sangat besar anakku, dan engkau bagiku merupakan nikmat dari-NYA yg dilimpahkan kepadaku”

“Ayah selalu saja berbicara tentang ALLAH. Ayah cobalah perlihatkan padaku seperti apa ALLAH itu?” anak itu minta keterangan

“Apa yg kau katakan barusan?” Sang ayah tiba-tiba kebingungan. Dia kini memikirkan bagaimana seharusnya dia menjawab pertanyaan seperti itu. Diam sejenak, lalu berkata kepada anaknya, “Kau mau saya memperlihatkan ALLLAH kepadamu?”
“Ya ayah, aku ingin melihat ALLAH”
“Bagaimana saya bisa memperlihatkan apa yg belum pernah saya lihat, anakku?”
“Mengapa ayah, mengapa ayah belum pernah melihat-NYA”
“Sebab selama ini saya belum pernah memikirkan-NYA”
“Lalu bagaimana kalau ayah mencarikan-NYA untuk saya lihat nanti bila sudah diketemukan?” anak itu mendesak.
“Ya anakku, saya akan pergi mencari-NYA”

Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya. Keluar rumah dan berkeliling ke seluruh pelosok kota menanyakan perihal pertanyaan yg diajukan sang anak kepadanya. Namun sia-sia dan bahkan orang-orang memperolok-olokannya. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang ALLAH, mereka telah sibuk dengan urusan dunia.

Laki-laki itu kemudian pergi mendatangi pemuka-pemuka agama. Tapi tak seorangpun diantara mereka yg sanggup menjawab pertanyaannya. Dia keluar dari rumah mereka dg perasaan putus asa. Berjalan menelusuri jalan-jalan kota menundukkan kepala tentang ALLAH, sambil bertanya-tanya dirinya sendiri, “Haruskah aku kembali pulang ke rumah dengan tangan hampa dan bahkan dengan perasaan putus asa?”

Akhirnya dia bertemu dg seorang Syeikh yg kemudian menyarankan kepadanya untuk pergi ke ujung kota, “Disana ada seorang pertapa tua yg akan sanggup menjawab pertanyaan yg diajukan kepadanya. Mungkin disana saudara bisa menanyakan apa saja yg saudara inginkan”

Ketika itu pula laki-laki itu langsung berjalan menuju ke ujung kota, menemui sang pertapa.
“Saya mendatangi bapak dg harapan dapat memperoleh apa yg saya inginkan tanpa sia-sia”, kata laki-laki itu.
Sang pertapa mengangkat mukanya, lalu berkata dg nada dalam dan merdu, “Katakan apa yg kau hajatkan”
“Pertapa yg baik hati, saya ingin sekali bapak memperlihatkan ALLAH kepadaku”.
Pertapa tua itu berpikir sejenak sambil memegang kumisnya yg uban, “Apakah engkau mengerti apa yg engkau katakan?” tanya sang pertapa.
“Ya, saya ingin bapak memperlihatkan ALLAH kepada saya”
“Hai, laki-laki. ALLAH tidaklah dapat dilihat dg alat penglihatan kita, tidak pula dapat diketahui dg indera kita. Adakah engkau dapat menembus laut dg hanya mempergunakan telunjuk yg Cuma bisa dipergunakan untuk menembus air dalam gelas?” suara pertapa itu mantap dan jelas.
“Jadi bagaimana saya akan bisa melihat-NYA?”
“Engkau dapat melihat-NYA apabila DIA telah membuka rohmu”
“Bagaimana caranya supaya DIA membuka rohku?”
“DIA hanya akan membuka rohmu apabila engkau benar-benar mencintai-NYA”

Laki-laki itu lalu bersujud dan mengambil tangan sang pertapa. Lalu berkata, “Wahai pertapa yg sholeh dan baik hati. Tolong mintakan kepada ALLAH agar DIA memberiku sebagian dari kecintaan-NYA”
“Tunduk patuhlah, wahai laki-laki. Lalu minta paling sedikitnya yg sedikit!” kata sang pertapa sambil menarik tangannya pelan-pelan.
“Saya minta sebanyak satu dirham dari kecintaan-NYA”
“Ooo. Itu terlalu rakus, satu dirham itu banyak, banyak sekali”
“Ya, seperempat dirham saja”
“Rendahkanlah dirimu, rendahkanlah”
“Sebesar biji sawi dari kecintaan-NYA”
“Itu masih banyak”
“Ya, setengah biji sawisajalah”
“Silahkan,mungkin bisa”

Seorang pertapa mengangkat ke langit dan berkata, “Ya ALLAH, berilah dia setengah biji sawi dari kecintaan-MU. Berilah ya ALLAH..”

Laki-laki itu bagun dari tempat duduknya dan pergi. Berhari-hari sudah dia keluar rumah. Keluarga laki-laki mendatangi sang pertapa dan mengatakan kepadanya bahwa laki-laki itu belum juga pulang ke rumah. Dia bersembunyi dan tak seorang pun mengetahuinya.

Sang pertapa itu bangun dari tempat duduknya. Dengan gelisah mereka bersama-sama mencari laki-laki yg ingin melihat ALLAH itu. Lalu mereka bertemu dengan beberapa orang penduduk kota mengatakan bahwa laki-laki itu kini sudah gila dan pergi ke sebuah gunung. Mereka pun bersama-sama mendatangi gunung. Dan tiba-tiba terlihat seorang laki-laki sedang berdiri diatas sebuah batu besar. Mereka mendekatinya. Dan benar, dia adalah laki-laki yg sedang mencari ALLAH, yg sedang menatap langit. Mereka menyapanya dg salam. Tapi dia tidak menjawabnya. Sang pertapa maju ke depan dan berkata, “Lihatlah padaku. Aku adalah pertapa yg kau datangi kemarin”

Laki-laki itu tidak juga bergerak. Dan anaknya yg kemarin bertanya tentang ALLAH maju dg hati ragu penuh kekhawatiran, “Ayah, tidakkah ayah kenal aku?” usahanya gagal. Laki-laki itu tetap tidak bergerak. Kemudian semua keluarganya berusaha agar laki-laki itu sadar kembali, lalu laki-laki itu tetap memandang ke angkasa sambil berkata,

“Jangan ganggu, Bagaimana orang yg telah mempunyai kecintaan ALLAH yg bersemayam di hatinya dapat mendengar pembicaraan manusia?! Demi ALLAH, seandainya kalian memotong tubuhnya dengan gergaji, niscaya dia tidak akan merasakan bahwa dirinya dipotong-potong oleh manusia”

Anaknya lalu berteriak, “Dosanya karena aku. Akulah yg meminta kepadanya untuk memperlihatkan ALLAH kepadaku.

Sang pertapa menoleh kepadanya, seakan-akan dia berbicara kepada dirinya sendiri :

“Adakah engkau lihat? Tidakkah engkau saksikan bahwa setengah besar biji sawi dari kecintaan dan cahaya ALLAH cukup untuk menghancurkan susunan tubuh dan akal pikiran kita”

Maha suci ALLAH dengan segala firman-NYA :

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Al A’raaf 143)
(Bagaimana Aku Melihat ALLAH, 1982)

Bagaimana Aku Melihat ALLAH

Image

Dahulu kala ada seorang laki-laki baik budi bahasanya, bersih hatinya. Dia dikaruniai seorang anak laki-laki yg sangat cerdas dan pandai berbicara. Pada suatu hari mereka duduk berdua, berbincang-bincang seakan-akan mereka saling berteman tak ada umur yg membedakan. Mereka saling berpengertian didalam bertukar pikiran mengenai hakekat alam.

Hari itu dia melihat kepada anaknya dan berkata, “Terima kasihku kepada ALLAH sangat besar anakku, dan engkau bagiku merupakan nikmat dari-NYA yg dilimpahkan kepadaku”

“Ayah selalu saja berbicara tentang ALLAH. Ayah cobalah perlihatkan padaku seperti apa ALLAH itu?” anak itu minta keterangan

“Apa yg kau katakan barusan?” Sang ayah tiba-tiba kebingungan. Dia kini memikirkan bagaimana seharusnya dia menjawab pertanyaan seperti itu. Diam sejenak, lalu berkata kepada anaknya, “Kau mau saya memperlihatkan ALLLAH kepadamu?”
“Ya ayah, aku ingin melihat ALLAH”
“Bagaimana saya bisa memperlihatkan apa yg belum pernah saya lihat, anakku?”
“Mengapa ayah, mengapa ayah belum pernah melihat-NYA”
“Sebab selama ini saya belum pernah memikirkan-NYA”
“Lalu bagaimana kalau ayah mencarikan-NYA untuk saya lihat nanti bila sudah diketemukan?” anak itu mendesak.
“Ya anakku, saya akan pergi mencari-NYA”

Laki-laki itu bangun dari tempat duduknya. Keluar rumah dan berkeliling ke seluruh pelosok kota menanyakan perihal pertanyaan yg diajukan sang anak kepadanya. Namun sia-sia dan bahkan orang-orang memperolok-olokannya. Mereka tidak mempunyai waktu untuk memikirkan tentang ALLAH, mereka telah sibuk dengan urusan dunia.

Laki-laki itu kemudian pergi mendatangi pemuka-pemuka agama. Tapi tak seorangpun diantara mereka yg sanggup menjawab pertanyaannya. Dia keluar dari rumah mereka dg perasaan putus asa. Berjalan menelusuri jalan-jalan kota menundukkan kepala tentang ALLAH, sambil bertanya-tanya dirinya sendiri, “Haruskah aku kembali pulang ke rumah dengan tangan hampa dan bahkan dengan perasaan putus asa?”

Akhirnya dia bertemu dg seorang Syeikh yg kemudian menyarankan kepadanya untuk pergi ke ujung kota, “Disana ada seorang pertapa tua yg akan sanggup menjawab pertanyaan yg diajukan kepadanya. Mungkin disana saudara bisa menanyakan apa saja yg saudara inginkan”

Ketika itu pula laki-laki itu langsung berjalan menuju ke ujung kota, menemui sang pertapa.
“Saya mendatangi bapak dg harapan dapat memperoleh apa yg saya inginkan tanpa sia-sia”, kata laki-laki itu.
Sang pertapa mengangkat mukanya, lalu berkata dg nada dalam dan merdu, “Katakan apa yg kau hajatkan”
“Pertapa yg baik hati, saya ingin sekali bapak memperlihatkan ALLAH kepadaku”.
Pertapa tua itu berpikir sejenak sambil memegang kumisnya yg uban, “Apakah engkau mengerti apa yg engkau katakan?” tanya sang pertapa.
“Ya, saya ingin bapak memperlihatkan ALLAH kepada saya”
“Hai, laki-laki. ALLAH tidaklah dapat dilihat dg alat penglihatan kita, tidak pula dapat diketahui dg indera kita. Adakah engkau dapat menembus laut dg hanya mempergunakan telunjuk yg Cuma bisa dipergunakan untuk menembus air dalam gelas?” suara pertapa itu mantap dan jelas.
“Jadi bagaimana saya akan bisa melihat-NYA?”
“Engkau dapat melihat-NYA apabila DIA telah membuka rohmu”
“Bagaimana caranya supaya DIA membuka rohku?”
“DIA hanya akan membuka rohmu apabila engkau benar-benar mencintai-NYA”

Laki-laki itu lalu bersujud dan mengambil tangan sang pertapa. Lalu berkata, “Wahai pertapa yg sholeh dan baik hati. Tolong mintakan kepada ALLAH agar DIA memberiku sebagian dari kecintaan-NYA”
“Tunduk patuhlah, wahai laki-laki. Lalu minta paling sedikitnya yg sedikit!” kata sang pertapa sambil menarik tangannya pelan-pelan.
“Saya minta sebanyak satu dirham dari kecintaan-NYA”
“Ooo. Itu terlalu rakus, satu dirham itu banyak, banyak sekali”
“Ya, seperempat dirham saja”
“Rendahkanlah dirimu, rendahkanlah”
“Sebesar biji sawi dari kecintaan-NYA”
“Itu masih banyak”
“Ya, setengah biji sawisajalah”
“Silahkan,mungkin bisa”

Seorang pertapa mengangkat ke langit dan berkata, “Ya ALLAH, berilah dia setengah biji sawi dari kecintaan-MU. Berilah ya ALLAH..”

Laki-laki itu bagun dari tempat duduknya dan pergi. Berhari-hari sudah dia keluar rumah. Keluarga laki-laki mendatangi sang pertapa dan mengatakan kepadanya bahwa laki-laki itu belum juga pulang ke rumah. Dia bersembunyi dan tak seorang pun mengetahuinya.

Sang pertapa itu bangun dari tempat duduknya. Dengan gelisah mereka bersama-sama mencari laki-laki yg ingin melihat ALLAH itu. Lalu mereka bertemu dengan beberapa orang penduduk kota mengatakan bahwa laki-laki itu kini sudah gila dan pergi ke sebuah gunung. Mereka pun bersama-sama mendatangi gunung. Dan tiba-tiba terlihat seorang laki-laki sedang berdiri diatas sebuah batu besar. Mereka mendekatinya. Dan benar, dia adalah laki-laki yg sedang mencari ALLAH, yg sedang menatap langit. Mereka menyapanya dg salam. Tapi dia tidak menjawabnya. Sang pertapa maju ke depan dan berkata, “Lihatlah padaku. Aku adalah pertapa yg kau datangi kemarin”

Laki-laki itu tidak juga bergerak. Dan anaknya yg kemarin bertanya tentang ALLAH maju dg hati ragu penuh kekhawatiran, “Ayah, tidakkah ayah kenal aku?” usahanya gagal. Laki-laki itu tetap tidak bergerak. Kemudian semua keluarganya berusaha agar laki-laki itu sadar kembali, lalu laki-laki itu tetap memandang ke angkasa sambil berkata,

“Jangan ganggu, Bagaimana orang yg telah mempunyai kecintaan ALLAH yg bersemayam di hatinya dapat mendengar pembicaraan manusia?! Demi ALLAH, seandainya kalian memotong tubuhnya dengan gergaji, niscaya dia tidak akan merasakan bahwa dirinya dipotong-potong oleh manusia”

Anaknya lalu berteriak, “Dosanya karena aku. Akulah yg meminta kepadanya untuk memperlihatkan ALLAH kepadaku.

Sang pertapa menoleh kepadanya, seakan-akan dia berbicara kepada dirinya sendiri :

“Adakah engkau lihat? Tidakkah engkau saksikan bahwa setengah besar biji sawi dari kecintaan dan cahaya ALLAH cukup untuk menghancurkan susunan tubuh dan akal pikiran kita”

Maha suci ALLAH dengan segala firman-NYA :

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Al A’raaf 143)
(Bagaimana Aku Melihat ALLAH, 1982)

Mengingat ALLAH Lebih Baik dari Bicara

Image

Nabi SAW bersabda, “Orang yang bangun di pagi hari hanya dengan Allah di dalam pikirannya, maka Allah akan menjaganya di dunia ini maupun di akhirat.”

Beberapa di antara para pedzikir bisa sampai sedemikian larut dalam ingatan akan Dia, sehingga mereka tidak mendengarkan orang yang bercakap dengan mereka, tidak melihat orang berjalan di depan mereka, tetapi terhuyung-huyung seakan-akan melanggar dinding.

Seorang wali meriwayatkan bahwa suatu hari ia melewati tempat para pemanah sedang mengadakan perlombaan memanah. Agak jauh dari situ, seseorang duduk sendirian. “Saya mendekatinya dan mencoba mengajaknya berbicara, tetapi dia menjawab, ‘Mengingat Allah lebih baik daripada bercakap.”

Saya berkata, “Tidakkah anda kesepian?”

“Tidak,” jawabnya, “Allah dan dua malaikat bersama saya.”

Sembari menunjuk kepada para pemanah saya bertanya, “Mana di antara mereka yang telah berhasil menggondol gelar juara?”

“Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menggondolnya,” jawabnya.

Kemudian saya bertanya, “Jalan ini datang dari mana?”

Terhadap pertanyaan ini dia mengarahkan matanya ke langit, kemudian bangkit dan pergi seraya berkata, “Ya Rabbi, banyak mahluk-Mu menghalang-halangi orang dari mengingat-Mu.” (al-Ghazali)

Makna Kata “KAMI” dalam Al-Qur’an

ImageIslamterbuktibenar.net

Seringkali, orang kufar mencoba mengganggu iman kita dengan bertanya: Mengapa Qur’an sering guna kata KAMI untuk ALLAH? Bukankah kami itu banyak? Apakah itu bermakna Qur’an pun mengakui Tuhan itu lebih dari 1?

Kata KAMI sebagai penghormatan

Bahasa Arab ialah bahasa paling sukar didunia. Hal ini disebabkan kerana dalam 1 kata, bahasa arab memiliki banyak makna.
Contoh: Sebuah gender, dalam suatu daerah boleh bermakna lelaki, tapi dalam daerah lain boleh bermakna perempuan.
Dalam bahasa Arab, dhamir ‘NAHNU’ ialah dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu ‘NAHWU’, maknanya tak cuma kami, tapi aku, saya dan lainnya.

JIKA MEMANG “KAMI” DALAM QUR’AN DIARTIKAN SEBAGAI LEBIH DARI 1, LALU MENGAPA ORANG ARAB TIDAK MENYEMBAH ALLAH LEBIH DARI 1? MENGAPA TETAP 1 ALLAH SAJA? TENTU KARENA MEREKA PAHAM TATA BAHASA MEREKA SENDIRI.
Dalam ilmu bahasa arab, penggunaan banyak istilah dan kata itu tidak selalu bermakna zahir dan apa adanya. Sedangkan Al-Quran adalah kitab yang penuh dengan muatan nilai sastra tingkat tinggi.

Selain kata ‘Nahnu”, ada juga kata ‘antum’ yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna ‘antum’ adalah kalian (jamak).
Secara rasa bahasa, bila kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka ada kesan sopan dan ramah serta penghormatan ketimbang menggunakan sapaan ‘anta’.

Kata ‘Nahnu’ tidak harus bermakna arti banyak, tetapi menunjukkan keagungan Allah SWT. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.
Contoh: Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang berpidato sambutan berkata,”Kami merasa berterimakasih sekali . . . “
Padahal orang yang berpidato Cuma sendiri dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna jika orang yang berpidato sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?
Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa. Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Di dalam Al-Quran ada penggunaan yang kalau kita pahami secara harfiyah akan berbeda dengan kenyataannya. Misalnya penggunaan kata ‘ummat’.
Biasanya kita memahami bahwa makna ummat adalah kumpulan dari orang-orang. Minimal menunjukkan sesuatu yang banyak. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi Ibrahim yang saat itu hanya sendiri saja, tetap disebut dengan ummat.
QS.16 An-Nahl :120 Sesungguhnya Ibrahim adalah “UMMATAN ” yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan.

Dalam tata bahasa Arab, ada kata ganti pertama singular [anâ], dan ada kata ganti pertama plural [nahnu]. Sama dengan tata bahasa lainnya. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat, dan sering, difungsikan sebagai singular.
Dalam grammer Arab [nahwu-sharaf], hal demikian ini disebut “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, kata ganti pertama yang mengagungkan dirinya sendiri.
Permasalahan menjadi membingungkan setelah al-Quran yang berbahasa Arab, dengan kekhasan gramernya, diterjemahkan ke dalam bahasa lain, termasuk Indonesia, yang tak mengenal “al-Mutakallim al-Mu’adzdzim li Nafsih-i” tersebut.
Contoh penggunaan kata KAMI dalam Qur’an:Qs. 15 Hijr: 66. Dan telah Kami wahyukan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.
“Kami wahyukan…” Maka disini berarti ada peran makhluk lain yaitu Malaikat Jibril sebagai pembawa atas perintah Allah.

Contoh penggunaan kata AKU dalam Qur’an:
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.
13. Dan Aku telah mmilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.
14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Pada ayat-ayat di atas, kata AKU digunakan karena Allah sendiri berfirman langsung kepada Nabi Musa AS tanpa perantara Malaikat Jibril…. ^_^

Contoh penggunaan kata KAMI dan AKU yang bersamaan dalam Qur’an:
Qs.21 Anbiyaa: 25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
Kata KAMI digunakan saat Allah mewahyukan dengan perantara Malaikat Jibril, & kata AKU digunakan sebagai perintah menyembah Allah saja.

Keluarga Teladan Sepanjang Masa

Image

Ketika itu Hasan ra dan Husain ra sedang dalam keadaan sakit. Rosulullah saw ditemani oleh beberapa sahabat, datang menjenguk mereka.

Rosulullah menyarankan kepada Ali ra untuk mengucapkan janji (bernazar) kepada mereka itu. Semua anggota keluarga termasuk Fatimah ra, Ali ra, dan Fazzah, pembantu mereka, mengucapkan janji kepada ALLAH untuk menjalankan puasa selama tiga hari bila putra-putra Ali sembuh dari sakit.
Ketika mereka sembuh, puasa pun dimulai. Tetapi mereka tidak memiliki apa-apa untuk berbuka puasa. Ali kemudian meminjam tiga sha’ gandum dari seorang yahudi di Khaibar bernama Syam’un.

Fatimah memanggang lima keeping roti dengan sepertiga bagian gandum itu dan meletakkanya diatas meja makan pada saat berbuka puasa. Pada saat hendak berbuka, seorang pengemis mengetuk pintu dan meminta makanan sambil berkata, “Tolonglah aku, semoga ALLAH memberimu makan dengan makanan surge”. Keluarga itu pun memberikan makanan mereka dan berbuka hanya dg air.

Hari  berikutnya mereka masih berpuasa. Sekali lagi lima keeping roti dipersiapkan. Kini, seorang anak yatim mengetuk pintu untuk meminta makanan. Keluarga itu sekali lagi memberikan makanan mereka kepada anak yatim itu. Pada hari ketiga datang tawanan menjelang saat berbuka. Mereka melakukan hal yg sama.
Pada hari ketika Ali membawa anak-anaknya ke rumah Rosulullah . Melihat keadaan cucu-cucunya, beliau menjadi sedih dan berkata, “Betapa susah bagiku melihat kalian dalam keadaan yg sulit ini”.

Lalu beliau mengajak mereka kembali ke rumah Fatimah. Ketika tiba disana, Fatimah sedang berdoa, sementara kondisi tubuhnya benar-benar lemah dan matanya begitu sayu.

Melihat keadaan ini, Rosulullah saw menjadi bertambah sedih. Pada waktu itu, malaikat Jibril datang kepada beliau dan mengatakan, “Terimalah hadiah dari ALLAH ini. ALLAH mengirimkan ucapan selamat bagimu karena memiliki keluarga yg begitu mulia”.

Lalu Jibril membacakan kepada Rosulullah, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS. Al-Insaan 8-9). (Kado Pernikahan Untuk Istriku, 2001)

Kisah Muallaf Irena Handono: Hidayah di Biara

Image

IslamIsLogic.wordpress.com

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.

Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donator terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.

Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.

Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.

Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari Jum’at siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.

Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.

Aku membacanya, bagus surat Al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat Al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”

“Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.

“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.

Dosen menjawab, “Tidak bisa!” Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.

“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?

“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat Al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab.

“Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.

“Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi. “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.

“Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malamnya, kembali kukaji surat Al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.

“Sebetulnya saya tahu,” ucapku. “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka. “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.” “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti.

Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat Al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.

Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar Romawi.

Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.

Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan Al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.

Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.

Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.

Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.

Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!

Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.

Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?”

“Siap!” jawabku. “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau. “Pernikahan saya!” tegasku.
Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. “Kenapa dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi. “Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum Ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.

Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.

Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan.
Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.

Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.

Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah. (Kisah Irene Handono)

Kolam Kedamaian

Image

SUFIMUDA.NET
Di hutan belantara yang jarang di jamah manusia, terdapat sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Dasar kolam kelihatan hitam karena tersusun dari batu-batu berwarna hitam, dan airnya bersumber dari mata air yang ada di dasar kolam. Yang membuat kolam itu berbeda dengan kolam biasa adalah hampir semua hewan yang ada dihutan menjadikan kolam tersebut sebagai tempat pelepas dahaga dan yang lebih anehnya lagi hewan-hewan penghuni hutan yang saling membunuh tapi disekitar kolam mereka nampak akur tanpa saling menerkam satu sama lain. Rusa dengan harimau minum berdekatan, begitu juga dengan hewan2 lainnya, mereka tidak saling bermusuhan. Ketika mereka jauh dari kolam, maka harimau akan seperti aslinya, menjadikan rusa sebagai makanan begitu juga dengan hewan lain yang terkait dengan rantai makanan. Ini kisah nyata pengalaman teman saya ketika dia masuk hutan belantara di pedalaman sumatera. Dia diajak oleh kakeknya berburu sampai ke tengah hutan yang sangat lebat, disanalah mereka menemukan kolam tersebut. Saya sangat terkesan dengan cerita tentang kolam jernih di hutan belantara, bukan hanya sebagai tempat minum namun sebagai tempat damai bagi semua penghuni hutan. Saya menyebut kolam itu dengan KOLAM KEDAMAIAN.

Apakah benar atau tidak tentang adanya kolam ajaib atau kolam kedamaian itu, saya jadi teringat dengan kehidupan manusia di dunia, diantara satu dengan lain saling bermusuhan tapi pada saat tertentu mereka akan akur tanpa saling melihat kesalahan dan saling “menerkam” satu sama lain. Setahun sekali ummat Islam berkumpul di Mekkah melaksanakan haji dan mereka dengan hati yang senang meminum air dari kolam kedamaian dari sebuah sumur yang bernama “zamzam”. Disana tidak ada rasa benci dan permusuhan, tidak melihat perbedaan suku dan daerah dan tidak melihat perbedaan mazhab dan aliran. Mereka dengan akur berada dalam satu payung besar yaitu ummat Muhammad.

Setelah keluar dari “Kolam Kedamaian” tersebut, maka kembali kepada sifat alamiah manusia, muncul lagi naluri yang keluar dari otak Reftil, saling bermusuhan, merasa paling benar dan berusaha menghilangkan orang-orang atau aliran yang dianggap mereka “sesat”.

Pada lingkungan lebih kecil, sebenarnya Mesjid sebagai Rumah Allah bisa menjadi “Kolam Kedamaian”, disitu seluruh ummat bersatu, saling menghormati dan menghargai, tidak menjadi perbedaan sebagai bala akan tetapi menjadikannya sebagai rahmat sebagaimana yang selalu diinginkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW.

Mesjid, Surau atau Alkah Zikir hendaknya menjadi Kolam Kedamaian bagi seluruh ummat Islam sehingga dahaga Ummat akan terpenuhi dengan mengunjungi tempat tersebut setiap saat. Disana kita akan menemukan rasa damai dan keindahan persaudaraan yang selalu di impikan. Lebih jauh lagi, ummat Islam secara pribadi hendaknya menjadi kolam kedamaian bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi lingkungan sesuai kadar dan kemampuan masing-masing sehingga ummat Islam bisa menjadi Rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang di impikan oleh Rasulullah SAW.