Kisah Kesabaran Tanpa Batas

Image

1. KESABARAN FATIMAH BINTI ROSULULLAH

Fatimah az-Zahra binti Rosulullah pernah mengalami kelaparan selama beberapa hari. Saat itu, suaminya Ali ra melihat wajahnya pucat pasi. Maka ia bertanya kepadanya, “Kenapa engkau pucat demikian, wahai Fatimah?”

Fatimah menjawab, “Sejak tiga hari yang lalu kami tidak mempunyai makanan di rumah!”. Ali berkata, “Mengapa engkau tidak memberitahuku?”. Ia menjawab, “Sebab, pada malam pernikahan kita dahulu, Rosulullah saw pernah berpesan kepadaku seperti ini : “Wahai Fatimah, Jika Ali ra datang kepadamu dengan membawa sesuatu, makanlah! Namun, bila ia tidak membawa apa-apa, janganlah sekali-kali menanyakannya” (Menjadi Wanita Paling Bahagia, 2007)

2. KESABARAN NABI YUSUF AS

Perhatikanlah apa yg terjadi kepada Nabi Yusuf as. Dia bersabar dalam menghadapi berbagai ujian, disiksa, dijadikan budak, dipenjara, dan dihina, ia tetap menerima apa yg diberlakukan Tuhan kepada dirinya, sehingga dia mampu bertahan dan akhirnya berbahagia dengan menjadi raja. (Syaikh Abdul Qadir Jailani)

3. KESABARAN Ali bin Abi Thalib ra

Ali pernah memanggil budaknya sampai mengulang 3 kali, namun tak ada jawaban. Maka dicarinya sibudak, lalu dilihatnya sedang berbaring. Ali berkata, “Apakah engkau tak mendengar?”. “Ya, saya mendengar”. “Lalu, mengapa engkau tak menjawab?” tanya Ali. “Karena saya yakin bahwa tuan tak akan menghukumku!”. Mendengar itu, Ali berkata, “Pergilah, engkau kumerdekakan” (Al-Ghazali)

4. KESABARAN IBRAHIM BIN ADHAM

Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Ibrahim bin Adham  pergi ke suatu tempat di padang pasir, dan berjumpa dengan seorang tentara yang menegurnya: “Engkau seorang hamba/budak?” “Ya” jawab Ibrahim. Orang itu bertanya lagi: “Dimana tempat yang dihuni orang banyak?”. Mendengar itu, ibrahim menunjuk ke tempat pekuburan. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya: “Yang saya tanyakan adalah tempat yg banyak penghuninya!” Jawab Ibrahim: “Itulah pekuburan”. Merasa dipermainkan, tentara itu menjadi marah dan memukul kepala Ibrahim dg sebuah cambuk, sehingga menyebabkannya terluka dan berdarah. Lalu dikembalikannya ke kota dan berjumpa dg para pengikutnya. Mereka menanyakan: “Apa yg terjadi?” Tentara itu memberi tahu mereka mengenai pertanyaannya serta jawaban yg diterimanya. Orang-orang itu menjelaskan: “Ini adalah Ibrahim bin Adham!”. Mendengar itu si tentara terkejut dan segera turun dari kudanya, lalu mencium kedua tangan dan kaki Ibrahim, sambil meminta maaf darinya.

Setelah itu beberapa orang menanyakan kepada Ibrahim, “Mengapa anda mengatakan kepadanya bahwa Anda seorang hamba/budak?” Jawab Ibrahim: “Ia tidak menanyakan kepadaku: “Hamba siapa anda?” tetapi bertanya : “Apakah anda seorang hamba/budak?” Maka aku pun menjawab “Ya”. Karena aku adalah hamba ALLAH. Dan ketika ia memukul kepalaku, kumintakan surga baginya dari ALLAH SWT”. Seorang dari mereka bertanya, “Mengapa? Bukankah ia telah menzalimi anda?”. Jawab Ibrahim : “Aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena (bersabar atas) perbuatannya itu. Maka aku tak mau bagian yang kuperoleh darinya berupa kebaikan (pahala), sedangkan bagian yg diperolehnya dariku berupa keburukan (dosa karena telah memukulnya)”. (Al-Ghazali)

5. KESABARAN PARA WALIALLAH

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata, “Aku bersama para murit Syaikh Ahmad  mengikuti beliau keluar baghdad. Setibanya dijembatan yahud, beliau mendorongku sampai akau tercebur ke sungai -pada saat itu udara sangat dingin- kemudian mereka berlalu dan meninggalkanku. Aku berkata dalam hati, ‘Aku berniat untuk mandi jum’at’. Saat itu aku mengenakan jubah sufi dan dilenganku terdapat sebuah jubah lagi yang membuatku harus mengangkatnya agar tidak basah. Aku keluar dari air lalu memeras jubah tersebut dan menyusul mereka dalam kondisi kedinginan yang menusuk hingga ke tulang. Melihat kondisiku, para muritnya bermaksut untuk menolongku namun beliau melarang mereka seraya berkata, “Apa yang aku lakukan adalah untuk mengujinya dan aku mendapatinya bagai gunung, kokoh tak bergerak”. (Mahkota Para Aulia, 2005)

nb : bagai gunung kokoh tak bergerak maksudnya dalam menghadapi ujian, beliau seperti gunung yang kokoh, tanpa mengeluh, tidak menolak, tidak marah, tidak meminta bantuan makhluk. Dan beliau menerima, ridho dan bersabar atas semua ketetapan dan takdir ALLAH yang ditimpakan kepadanya.

6. KESABARAN ABU UTSMAN AL-HIRIY

Suatu ketika Abu Utsman Al-Hiriy sedang berjalan disebuah lorong sempit, ketika seseorang -dari atap sebuah rumah- melemparkan sebuah baskom penuh abu diatas kepalanya. Segera ia turun dari tunggangannya dan melakukan sujud syukur, kemudian menepiskan abu itu dari pakaiannya. Ia pun melanjutkan perjalanannya tanpa mengatakan sesuatu. Beberapa diantara kawan-kawannya berkata kepadanya, “Tidakkah seharusnya anda memarahi mereka?”. Ia menjawab, “Orang yang layak baginya memperoleh hukuman api (neraka), lalu (oleh ALLAH) diberi keringanan dengan hanya menerima hukuman dengan abu, tidaklah patut baginya untuk marah!” (Al-Ghazali)

7. KESABARAN  Uwais Al-Qaraniy

Dikisahkan bahwa Uwais Al-Qaraniy sering dilempari batu oleh sekelompok anak-anak, setiap kali mereka melihatnya. Lalu katanya, “Hai saudara-saudaraku, kalau memang harus kalian melempari aku, tolong lempari aku dengan batu yg kecil-kecil saja. Agar kalian tak melukai kakiku yg akan menghalangiku untuk sholat dg berdiri” (Al Ghazali)

8. KESABARAN Muhammad bin Ali at-Tirmidzi

“Apabila guru (Muhammad bin Ali at-Tirmidzi) marah kepada kalian, apakah kalian tahu?” seseorang bertanya kepada keluarga Tirmidzi.

“Ya, kami tahu” mereka menjawab, “Setiap kali ia marah kepada kami, maka ia bersikap lebih ramah daripada biasanya. Kemudian ia tidak mau makan dan minum. Ia menangis dan memohon kepada ALLAH : “Ya ALLAH, apa perbuatanku yg  menimbulkan murka-MU sehingga ENGKAU membuat keluargaku sendiri menentangku? Ya ALLAH, aku mohon ampun-MU! Tunjukkanlah mereka jalan yang benar!” Apabila ia bersikap seperti demikian, tahulah kami bahwa ia sedang marah. Dan segeralah kamu bertaubat agar ia lepas dari dukacitanya itu” (Kisah Para SUfi (Wali), 1998)

9. KESABARAN Ahnaf bin Qais

Seorang laki2 mencaci Ahnaf bin Qais, sementara ia tidak menjawabnya. Namun orang itu terus mengikutinya sambil menujukan caciannya. Sehingga ketika telah berada dekat dg kampung tempat tinggalnya, Ahnaf berhenti dan berkata, “Kalau masih ada yg tersisa dari cacian anda, katakanlah sekarang. Agar tak terdengar oleh beberapa anak2 nakal dikampungku, dan mengganggu anda karenanya (Al-Ghazali)

10. KESABARAN QAIS BIN ASHIM

Pernah ditanyakan kepada ahnaf bin Qais, “Dari siapakah anda belajar menjadi seorang penyantun (penyabar dan pemaaf)?”
“Dari Qais bin Ashim”, jawab Ahnaf
“Sampai seberapa jauh kesantunannya itu?” tanya orang itu
“Pada suatu ketika, ia sedang duduk di rumahnya, ketika seorang budak perempuan membawakan untuknya daging bakar di atas sebuah nampan yang panas. Malang baginya, nampan itu terjatuh diatas kepala seorang bayi, putra Qais, yang menyebabkan kematiannya. Si budak itu menjadi amat ketakutan, namun Qais berkata kepadanya, “Tidak usah kamu merasa takut, sejak kini kumerdekakan kamu, semata-mata demi mengharap keridhaan ALLAH SWT” (Al-Ghazali)

11. KESABARAN ABU UTSMAN AL-HIRIY

Suatu ketika, Abu Utsman AL-Hiriy diajak makan oleh seorang yang sengaja ingin mengujinya. Maka ketika sampai dirumahnya, orang itu berkata, “Tak ada urusanku denganmu!”. Mendengar itu, Abu Utsman segera pulang. Tetapi, belum begitu jauh ia melangkah, si pemilik rumah memanggilnya kembali. Dan kembalilah ia. Namun ketika sampai di depan rumahnya, orang itu berkata lagi, “Hai Ustadz, pulanglah!”. Dan ia pun melangkah untuk pulang, sedangkan si pemilik rumah membiarkannya pergi sebentar, lalu memanggilnya kembali, untuk ketiga kalinya. Abu Utsman menurut saja, dan kembali mendatangi orang itu. Ketika sampai didepan pintunya, orang itu berkata, “Aku tidak punya waktu untukmu!”. Dan sekali lagi Abu Utsman melangkah pulang, tetapi orang itu memanggilnya lagi. Begitulah seterusnya, berulang kali ia memperlakukan ABu Utsman seperti itu, sementara Abu Utsman tidak menunjukkan kekesalan hatinya sedikit pun. Sampai akhirnya, si pemilik rumah bersimpuh dibawah kedua kaki Abu Utsman, seraya berkata, “Wahai Ustadz, sesungguhnya aku hanya ingin menguji kesabaranmu. Betapa mulianya akhlak Anda!”. Maka berkatalah Abu Utsman, “Sesungguhnya yg anda lihat dariku itu, tak lebih dari perangai seekor anjing (merasa tak berharga dihadapan ALLAH), apabila dipanggil, ia segera datang, dan apabila dibentak, ia pun terdiam”. (Al-Ghazali)

 

12. KESABARAN JALALUDIN AR-RUMI

Suatu hari Jalaluddin Ar-Rumi bertemu dg dua orang yg  sedang bercek-cok. Salah seorang diantaranya berkata, “Kalau kamu berkata sepatah kata, aku akan membalas dg sepuluh kata”. Mendengar omelan itu, Jalaluddin menyela, “Contohlah aku! kalau kalian berkata kepadaku 1000 kali, aku tidak akan membalas sepatah kata pun”. Seketika itu juga keduanya bersimpuh dikakinya, dan kembali rukun (Kisah Para Sufi (Wali), 1998)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: