Kolam Kedamaian

Image

SUFIMUDA.NET
Di hutan belantara yang jarang di jamah manusia, terdapat sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Dasar kolam kelihatan hitam karena tersusun dari batu-batu berwarna hitam, dan airnya bersumber dari mata air yang ada di dasar kolam. Yang membuat kolam itu berbeda dengan kolam biasa adalah hampir semua hewan yang ada dihutan menjadikan kolam tersebut sebagai tempat pelepas dahaga dan yang lebih anehnya lagi hewan-hewan penghuni hutan yang saling membunuh tapi disekitar kolam mereka nampak akur tanpa saling menerkam satu sama lain. Rusa dengan harimau minum berdekatan, begitu juga dengan hewan2 lainnya, mereka tidak saling bermusuhan. Ketika mereka jauh dari kolam, maka harimau akan seperti aslinya, menjadikan rusa sebagai makanan begitu juga dengan hewan lain yang terkait dengan rantai makanan. Ini kisah nyata pengalaman teman saya ketika dia masuk hutan belantara di pedalaman sumatera. Dia diajak oleh kakeknya berburu sampai ke tengah hutan yang sangat lebat, disanalah mereka menemukan kolam tersebut. Saya sangat terkesan dengan cerita tentang kolam jernih di hutan belantara, bukan hanya sebagai tempat minum namun sebagai tempat damai bagi semua penghuni hutan. Saya menyebut kolam itu dengan KOLAM KEDAMAIAN.

Apakah benar atau tidak tentang adanya kolam ajaib atau kolam kedamaian itu, saya jadi teringat dengan kehidupan manusia di dunia, diantara satu dengan lain saling bermusuhan tapi pada saat tertentu mereka akan akur tanpa saling melihat kesalahan dan saling “menerkam” satu sama lain. Setahun sekali ummat Islam berkumpul di Mekkah melaksanakan haji dan mereka dengan hati yang senang meminum air dari kolam kedamaian dari sebuah sumur yang bernama “zamzam”. Disana tidak ada rasa benci dan permusuhan, tidak melihat perbedaan suku dan daerah dan tidak melihat perbedaan mazhab dan aliran. Mereka dengan akur berada dalam satu payung besar yaitu ummat Muhammad.

Setelah keluar dari “Kolam Kedamaian” tersebut, maka kembali kepada sifat alamiah manusia, muncul lagi naluri yang keluar dari otak Reftil, saling bermusuhan, merasa paling benar dan berusaha menghilangkan orang-orang atau aliran yang dianggap mereka “sesat”.

Pada lingkungan lebih kecil, sebenarnya Mesjid sebagai Rumah Allah bisa menjadi “Kolam Kedamaian”, disitu seluruh ummat bersatu, saling menghormati dan menghargai, tidak menjadi perbedaan sebagai bala akan tetapi menjadikannya sebagai rahmat sebagaimana yang selalu diinginkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW.

Mesjid, Surau atau Alkah Zikir hendaknya menjadi Kolam Kedamaian bagi seluruh ummat Islam sehingga dahaga Ummat akan terpenuhi dengan mengunjungi tempat tersebut setiap saat. Disana kita akan menemukan rasa damai dan keindahan persaudaraan yang selalu di impikan. Lebih jauh lagi, ummat Islam secara pribadi hendaknya menjadi kolam kedamaian bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi lingkungan sesuai kadar dan kemampuan masing-masing sehingga ummat Islam bisa menjadi Rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang di impikan oleh Rasulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: